Menanti Datangnya Salju Dieng
Dinginnya malam menusuk pori-pori kulit, ketika menjelang pagi udara dingin Dieng Plateau menembus sum-sum tulang dan sekujur tubuh menggigil.
Dibilik jendela juga terlihat gemerlap bintang, bertaburan seperti mutiara, dan tersusun rapi membentuk gugusan.
Kadang rembulan menampakkan sinar redupnya, Lengkap sudah keajaiban Dieng, keindahan tak ternilai, kekayaan tiada tara dan budaya unik melekat kental.
Menanti datangnya salju Dieng, yang hadir setahun dalam sekali. Tak jauh beda dengan Eropa, sama-sama Dingin dan membuat kedinginan. Hanya saja Dieng terletak disebuah tempat terpencil daerah perbatasan Wonosobo & Banjarnegara.
Kami menyebutnya "Bun Upas", berbentuk seperti kristal, berwarna bening dan sangat dingin.
Ketika bulan Agustus tiba, dari segala penjuru dunia datang berduyun-duyun mencoba eropa kecil (Dieng). "Katanya, ada yang kapok dengan dinginya dieng". Dan ada yang merasakan kerinduan, saat meninggalkan Dieng.
"Yah, Salju Dieng memang nyata, bukan sekedar cerita ataupun dongeng belaka".
Dimusim itu juga, Penduduk Kami (Dieng) menyalakan api-api kecil dalam tungku khasnya, sarung untuk menutup kepala dan sebatang kretek menemani pada malam yang panjang.
Tips Menghadapi Tanah Longsor
Ada booklet yang sangat menarik yang penulis dapatkan dari majalah Angkasa, booklet tersebut membahas tips menghadapi bencana mulai dari banjir, gempa, sampai tsunami. Penulis akan menyarikannya untuk pembaca, yang pertama adalah tips menghadapi tanah longsor.
Tanah longsor terjadi akibat pergerakan tanah dalam jumlah besar dan dnegan kecepatan tinggi. Umumnya terjadi pada musim hujan dan terjadi di bukit yang curam dan gundul. Daerah yang pernah mengalami longsor juga berpotensi terhadap longsor lagi, apalagi jika dibiarkan gundul.
Hal yang bisa dilakukan jika kita berada atau tinggal di daerah yang rawan terhadap longsor adalah :
1. Pantau kemungkinan rekahan pada lereng bukit, tebing atau tepi sungai yang dekat dengan pemukiman, jika ada segera tutup dengan lempung atau semen.
2. Hindari membangun rumah dekat dengan tepi sungai atau di bawah tebing, jika terpaksa membangun rumah di lahan yang miring, sebaiknya bangun dua tingkat, bawah untuk gudang dan garasi, sedangkan yang atas untuk tempat tinggal.
3. Tanam pohon berakar kuat sekitar rumah dan di lereng bagian atas.
4. Selalu waspada terutama saat hujan dan malam hari.
Jika longsor terjadi, yang harus kita lakukan adalah :
1. Segera lari keluar rumah dan cari tempat yang lapang dan selamatkan anak-anak serta orang tua.
2. Hindari jalan yang sejajar dengan suara longsoran dan bangunan tinggi karena dikhawatirkan dinding rentan roboh karena terjangan longsor.
3. Jangan terburu-buru masuk rumah atau daerah longsor karena dikhawatirkan terjadi longsor susulan. Hati-hati jika hendak mengevakuasi korban, selalu waspada akan longsor susulan.
Sebenarnya tanah longsor dapat dicegah dengan:
1. Tidak menebang pohon dan merusak hutan. Akar pohon dapat menangkap aliran air sehingga tidak langsung melundur deras di permukaan.
2. Tidak membuka sawah di lahan yang miring terjal dan tidak memotong lereng terjal di bagian bawah.
3. Tidak membuat kolam air di lereng bagian atas terutama kolam yang dasarnya tidak kedap air.
4. Tidak melakukan tindakan yang menimbulkan getaran suara tinggi di lereng terjal.
5. Melakukan penanaman pohon yang berakar kuat pada daerah yang gundul.
6. Membuat saluran air hujan pada daerah yang berbukit. Dengan saluran air maka gerak air akan terkonsentrasi di satu jalur dan memudahkan untuk memprediksi gerak air.
Semoga bermanfaat...^^b
Wakil Bupati Serahkan 5000 Bibit Kopi Arabika Untuk Wadas Putih
Kerusakan lingkungan yang parah di dataran tinggi Dieng telah mengundang perhatian berbagai pihak, mulai Pemerintah Daerah hingga pemerintah pusat. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan diserahkannya 5000 bibit Kopi jenis Arabika dan 5000 bibit Carica kepada kelompok tani Dusun Wadas Putih, Desa Parikesit Kecamatan Kejajar, Senin 3 Januari 2010. Disamping bibit-bibit tanaman yang diharapkan mampu menahan erosi tersebut, diserahkan pula 10 Ton Pupuk Organik dan Komposter pengolah sampah, dan Biopori. Wakil Bupati Wonosobo, Dra Hj Maya Rosida MM langsung menyerahkan secara simbolis beragam perlengkapan pertanian tersebut, seusai membuka secara resmi Pelatihan Pengolahan Sampah menjadi pupuk organik, dan pelatihan pengolahan carica, di Madrasah Diniyah Wadas Putih.
Dalam sambutan pengarahannya, Wakil Bupati mengungkapkan keprihatinannya dengan kondisi Dataran Tinggi Dieng yang sangat rawan dengan bahaya tanah longsor. Kasus terakhir yang justru menimpa dua rumah di Dusun Wadas Putih sebulan lalu diharapkan Wabup dapat menjadi pelajaran berharga bagi warga lainnya, agar lebih sadar terhadap pengelolaan lahan di sekitar mereka tinggal. Dengan pemberian bibit Kopi dan Carica ini, Maya yang dalam kesempatan tersebut didampingi oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Wonosobo, Tri Atmi Agustini, Kepala Disperindag Soeharto dan Kabag Humas Setda Wonosobo, Agus Purnomo berharap warga tidak hanya terkonsentrasi pada menanam kentang saja. Hal ini karena menanam kentang tanpa ada tumpang sari dengan tanaman keras sangat berpotensi menimbulkan erosi tanah. Dengan adanya tanaman keras di sekitar lahan kentang, Wabup menjelaskan bahwa akar dari Carica maupun Kopi Arabika tersebut akan mampu mengikat tanah, sehingga tanah tidak mudah longsor.
Di samping itu, Wabup juga meminta agar mulai saat ini, warga di wilayah dataran tinggi Dieng mampu lebih produktif, dengan mencoba untuk beternak kelinci, kambing, maupun Sapi. Di samping kotorannya dapat dijadikan pupuk organik, dagingnya dapat dijual dalam bentuk makanan seperti sate maupun olahan lainnya, ke depan, Wabup berharap warga sekitar Dieng mampu memanfaatkan potensi wisata Dieng, dengan berjualan aneka makanan di tepi jalan menuju kawasan Wisata Dieng. Dengan demikian, kesejahteraan warga dapat meningkat tanpa bergantung lagi pada tanaman kentang.
Sementara itu, Kepala BLH Kabupaten Wonosobo, Tri Atmi Agustini dalam keterangannya menjelaskan bahwa kegiatan Pelatihan pengolahan sampah menjadi pupuk dan pengolahan Carica ini diselenggarakan atas inisiatif dan permintaan dari warga Wadas putih sendiri. Pihaknya hanya berusaha memfasilitasi kebutuhan warga, termasuk bibit, pupuk dan peralatannya. Kepada warga, Tri Atmi berharap agar bibit, pupuk dan peralatan yang diserahkan secara simbolis kepada Sekcam Kejajar tersebut dapat dirawat dan dipelihara sehingga kedepan akan mampu memberikan manfaat bagi generasi anak cucu.
Acara tersebut ditutup dengan penanaman bibit Kopi Arabika dan Carica oleh Wakil Bupati didampingi para pejabat yang hadir.
Route to Wonosobo
In Terboyo Bus Station there are many buses which serve Semarang - Purwokerto route via Wonosobo. The distance is about 120 km with 3, 5 hours travelled distance. The route is (Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo).
From Surakarta (Solo)
Even though there’s no many bus go to Wonosobo directly, there is some bus which serve this route. You can get this bus at Tirtonadi Bus Station with Solo-Purwokerto route via Wonosobo. The distance is about 180 km with 6 hours travelled distance. The route is (Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo).
From Magelang
The route from Magelang is the busy traffic to go to Wonosobo. There is a bus every 10 minutes which come and go. The last bus goes at 7 pm from Magelang Bus Station. The distance is about 65 km with 2 hours travelled distance. The route is: (Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo).
From Yogyakarta
There’s no direct route from Yogyakarta to Wonosobo. But, because the route Yogyakarta - Magelang - Semarang is so easy, automatically travel from Yogyakarta to Wonosobo becoming easy too. From Umbulharjo Bus Station, or from Jombor Bus Station, you can go with bus to Magelang and stop at Magelang Bus Station, and then continue travel to Wonosobo. The distance is about 120 km with 3, 5 hours travelled distance. The route is: (Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Muntilan-Magelang), and then follow route from Magelang.
From Purwokerto
In this route, bus come and goes every 10 minutes. There is a bus which serve Purwokerto-Wonosobo route and also there is a bus which serve Purwokerto-Semarang route via Wonosobo. You can get this bus at Purwokerto Bus Station. The distance is about 120 km with 3 hours travelled distance. The route is: (Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo).
From Jabodetabek
There are so many buses who serve this route. You can get it at Pulo Gadung, Kampung Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak and Bogor Bus Station. With 520 km distance, the bus goes at 5 pm and stop in Wonosobo before dawn.
Minuman Carica Sembuhkan Sariawan & Diminati Wisatawan
Ia mengatakan selain mengandung nutrisi vitamin C yang cukup tinggi, minuman buah carica ini dibuat secara manual, dan proses pengolahannya sangat sederhana, serta tidak membutuhkan waktu lama. "Proses pembuatannnya sederhana, hanya dengan merebus air yang dicampurkan dengan irisan buah carica dan gula pasir. Minumna buah carica dapat disajikan dalam keadaan dingin maupun hangat, serta mempunyai daya tahan yang cukup lama, yakni bisa disimpan hingga tiga bulan," katanya.
Selain dipasarkan di wilayah Yogyakarta, menurut Soimah minuman buah carica ini juga diminati wisatawan domestik dari beberapa daeah di Indonesia yang kebetulan sedan mengunjungi Yogyakarta. "Kami kerap kali menerima pesanan dari sejumlah pembeli dari berbagai kota di antaranya Jakarta,
Surabaya dan Bandung. Jumlahnya tidak menentu, tetapi kami selau memenuhi permintaan tersebut, berapa pun jumlahnya," katanya.
Ia mengatakan harga jual minuman carica bervariasi disesuaikan dengan ukurannya. "Kami tidak hanya menjual di rumah, tetapi juga memasok ke sejumlah supermarkate di Yogyakarta. Harga ukuran cup hanya Rp 6.000 per cup, namun dalam kemasan botol ukuran 260 gram Rp 12.000 per botol," katanya.
Menurut dia, bahan baku berupa buah carica didatangkan dari dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, dan setiap tiga hari sekali dirinya mendapat pasokan dari para petani buah carica di Dieng. "Kami membeli bahan baku dari para petani carica di Dieng, dalam tiga hari sekali kami disetori sebanyak 100 kilogram buah carica. Beberapa waktu lalu pascabencana Merapi kami sempat kesulitan mendapatkan buah carica karena terkendaka transportasi untuk pengirimannya," katanya.
Ia mengatakan selama mengikuti pameran kuliner ini antusias pembeli sangat beragam, dan jumlah pembeli meningkat dari hari ke hari. "Sejak hari pertama pameran hingga saat ini, setiap harinya kami mampu menjual rata-rata 100 cup minuman carica," katanya.
Menurut salah seorang pembeli minuman ini asal Jakarta, Lisye, minuman carica tergolong unik dan mempunyai banyak khasiat. "Minuman ini masih jarang saya temui, selain rasanya manis, juga dapat menyembuhkan sariawan karena kandungan vitammin C-nya cukup tinggi," katanya.
Api-api
Sebuah tradisi yang bagaimanapun juga akan sering kita pakai istilahnya, yaitu api-api. Sebenarnya malas sekali memakai kata yang sudah sering dipakai orang, tapi memang namanya api-api. Yaitu aktifitas berkumpul mengelilingi anglo yang didalamnya berisi arang membara sehingga orang di sekitarnya dapat merasa lebih hangat. Api-api biasanya dilakukan di ruang belakang rumah seperti dapur, mungkin karena bisa sekalian sambil memasak. Manusia pada hakikatnya memang banyak urusan, di aktifitas api-api inilah orang Dieng coba berkomunikasi dan saling membicarakan persoalannya masing-masing. Ada yang bicara soal kerjasama menanam kentang, transaksi pupuk kotoran kandang, sampai soal menjodohkan anak. Banyak persoalan warga Dieng yang mungkin diselesaikan di aktifitas api-api ini.
Bukan hanya warga Dieng, jika kita sedang berkunjung ke Dieng, orang Dieng akan dengan tulus menawari kita untuk bergabung dengan mereka mengelilingi anglo. Lalu salah satu di antara mereka akan mundur sebentar dan kembali lagi dengan segelas kopi panas nikmat untuk kita. Dapur sebenarnya merupakan ruang privat si pemilik rumah, jika ada orang baru datang ke rumah biasanya langsung dipersilakan untuk duduk di ruang tamu. Tapi di Dieng, orang asing bakal merasa bagai keluarga atau tetangga dekat si pemilik rumah, begitupun dengan obrolannya, akan lebih intim dari ketika di ruang tamu.
Sementara kabut putih mulai turun menyelimuti bukit di belakang rumah yang terlihat jelas dari dapur. Kopi juga masih hangat-hangatnya, pas sekali untuk dilewatkan ke dalam kerongkongan yang lagi dingin dan kering. Api di dalam anglo yang sedianya bakal menghangatkan tubuh ternyata tidak mampu menjangkau bagian punggung. Tapi untung gelak dan meriahnya pembicaraan di api-api bisa menghangatkan suasana, haha.
Rute ke Wonosobo
Dari Semarang
Di terminal Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang - Purwokerto melalui Wonosobo. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah : (Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)
Dari Surakarta (Solo)
Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini. Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo. Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah : (Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)
Dari Magelang
Jalur dari Magelang merupakan jalur ke Wonosobo yang ramai. Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi. Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah : (Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)
Dari Yogyakarta
Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo. Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai, dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah. Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor, naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal Magelang, baru ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah : (Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Muntilan-Magelang), selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.
Dari Purwokerto
Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi. Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo. Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut: (Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo)
Dari Jabodetabek
Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada. Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal: Pulo Gadung, Kampung Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor. Dengan jarak 520 km, bis biasanya berangkat sekitar pukul 17.00 WIB dan sampai di Wonosobo menjelang fajar.
Dieng Plateu Theater

Tak lengkap rasanya mengunjungi Dataran Tinggi Dieng tanpa mampir di Dieng Plateu Theater (DPT). Sebuah theater mini yang menayangkan film dokumenter Dataran Tinggi Dieng. Lokasinya di atas bukit dekat Telaga Warna. Kalau sudah sampai Telaga Warna tinggal menapaki tangga di bukit untuk sampai di DPT ini. Atau kalau memang tidak sedang mampir ke Telaga Warna tapi ingin main ke DPT tinggal mengikuti jalan dari pintu masuk Telaga Warna, lalu belok ke kiri, nanti akan kelihatan bangunan DPT di atas bukit.
Dari kawasan DPT tampak Kawah Sikidang di kejauhan, kawasan Candi Arjuna juga cukup terlihat, namun sayangnya tampak pula hutan yang mulai terkikis yang memiriskan hati. Di seberang DPT adalah area milik PT Geo Dipa Energi unit Dieng, sebuah perusahaan pembangkit energi listrik tenaga panas bumi. Di sekeliling DPT adalah ladang kentang milik masyarakat. Selain penjual makanan ada juga penjual syal dan souvenir di area ini. DPT diresmikan oleh Presiden SBY pada tahun 2006. Filmnya berkisah tentang asal-usul Dataran Tinggi Dieng dan letusan Kawah Sinila pada tahun 70-an yang tragis. Mulai dari arti nama Dieng, proses terbentuknya Dataran Tinggi Dieng, sampai budaya masyarakat Dieng juga dibeberkan di sini. Durasi filmnya tidak terlalu lama, mungkin sekitar 45 menit.
Carica : Dieng Plateau Area Fruit
This fruit has a scientific name Carica pubescens or Carica candamarcensis, and known as “gandul Dieng” or Mountain Papaya. The different between this two fruit is a papaya well grown as tropical plants which need lot sunshine, in contrary a carica only well grown in plateau with a low temperature and a lot of rain. That is a Dieng Plateau Area climate. This fruit is easy to grow and can be planted with another crops. This fruit also not a seasonal plant so this fruit not damage the land.
The carica have a long age, until 20 year or more. After 1 year planted, it can be harvest, and resulted good fruit. If the quality is decreased, the farmer cut that tree so it will produce a new bud. The fruit is like papaya, but smaller in size. The carica is also can’t eat directionally, because they contain a sap, so the taste is quite bitter. We can enjoy this fruit by cut it half and take the stone of fruit or they seed. This seed is an important material of carica syrup making. This carica also used as a sweet drink, a candy, jelly, and jam material, or as an addition in curry.
The example product of carica is carica in syrup, carica juice, carica syrup, carica jam, and carica candy. This product is a special product from Dieng and always searched by a tourist as a gift. The price of carica in syrup is ± Rp.10.000 (1US$=±Rp. 8.500) per bottle. The tastes are rubbery, sweet, and delicious, and also have a special aroma sell. If you eat it in Dieng, you can drink it immediately, but if you take it home you can add some ice on it. Enjoy!
Telaga Warna in Dieng Plateau Area
Telaga Warna is a small lake which is the famous icon of Dieng Plateau Area and also the famous tourist site in Dieng Plateau Area. The name is coming from the color of its surface. When another lake generally have only one color on its surface, the Telaga Warna have many colors, such as blue, green, and gray, so it is Telaga = Lake; Warna = Color. The location of this small lake is in Dieng village, Banjarnegara regency. It is near from Dieng Plateau Theater, Sikidang Crater’s, and also Dieng Temple Site.
To get there, we can choose many different ways, such as through official gate, through Dieng Plateau Theater (DPT) and through Jojogan village. The official gate can be reached from the T-intersection of Dieng road; you just need to turn left. Through that road you can see several inns and also there’s a pretty mosque which is the architecture is like a Moscow building in Russia. On the right side of road you can see Dieng Temple Site too. And finally the officially gate is in the left side of the road.
The second way is through DPT which is can be reached when you follow the road after the gate of Telaga Warna. DPT building is in above hill, the architecture is pretty unique. Across the DPT building we can see an area belong to PT Geo Dipa Energy Dieng, a power plant company which uses a geothermal energy. In DPT you can also watch a documenter movie about Dieng Plateau Area. But don’t forget to visit Telaga Warna by a lane behind the DPT building which down the hill. The lane is a downstairs, so don’t worry to get tired.
The last way is the most personal way, because it’s a village footpath. Jojogan village is a village which is on the northeast of Telaga Warna. When you get confused to this footpath, you can ask the villagers. And always take care because the wind sometime makes a tree which surrounding lake falls down. There’s a lot of fell tree on the side of lake. But it’s make a lake more beautiful, it’s the most favorite place to get a picture. Prove it please.
Dieng Temple Site
First time of course you can see Arjuna Temple Site. This site last have restoration at July 28, 2008 and legitimated by Minister of Culture and Tourism at that time Ir. Jero Wacik , SE. This temple site has a temple on east site that is Arjuna-Srikandi Temple, Puntadewa Temple, and Sembrada Temple, and west site that is Semar Temple and Arjuna Temple itself. Except that, that is another temple but unfortunately not in fit condition. This Dieng Temple Site is a Hindus temple, tall and slight, remembering us with another Hindus temple such as Prambanan Temple.
Beside that is Bima Temple and Gatotkaca Temple. Those two temples have a location near Dieng Temple Site. Gatotkaca Temple located in above hill and from here we can see Balekambang small lake. This small lake surrounded by potato field villagers, and likely not become a tourism object. Bima Temple located in near an open gate of Sikidang Crater’s. This temple still in a good condition and the area surrounding is also clean and beautiful. Beside a temple, this site also has a museum, so you can have a lot of temple knowledge.
And when you like to visit Sikidang Crater’s, you just walk through a gate near Bima Temple. In that road you can see a huge pipes belonged to PT Geo Dipa Energy unit Dieng, a power plant company that use geothermal energy. And better get ready because the distance from the open gate until the centre of crater is quite far. So that is the Dieng Temple Site and another place to visit nears that site. Enjoy please.
An Exotic Dieng
Dieng Plateau Area is an area surrounded by mountains. It seems this area is an eruption mountain area that make mountain can be a place to stay. The people in this area have a profession as a farmer, especially a potato farmer. Dieng Plateau Area is including in Wonosobo and Banjarnegara district. From Wonosobo to Dieng we can use a public transportation with charge ±Rp.6.000 (1US$=±Rp.9.500). The distance is about 27 km, through the slope of mountain, the street is twist and turn, zigzag adapt with the slope of mountain. If you choose to use personal vehicle, you must assured that you have an execelent experience in mountain driving.
The centre of tourism is in Dieng village which have a ±2500m height above the sea level. The weather is always cold, especially in July and August; it can be down until 10? Celsius. This plateau have a many place to visit, too many if you just come for a day. To make it easy, you can visit Arjuna Temple first. After that, you can go to Sikidang Crater, Color Lake, Pengilon Lake, and Dieng Plateau Theater (DPT). These places have a near distance one to another. In Arjuna Temple you can see a numerous Hindu temple in such beautiful garden. In Sikidang Crater you get an experience a sensation of sulfide crater. In Color Lake you will see beautiful scenery of blue green lake surrounded by trees and mountain. In Pengilon Lake you can eat some wild raspberry near lake. In here you can see a Semar Cave which position is in the middle of Color Lake and Pengilon Lake. And finally, in DPT you can watch some documenter movie about the plateau and its origin.
Besides that, you can also visit Sirawe Fall near Sileri Crater. And you can visit Sumur Jalatunda and Candradimuka Crater too; those places are in Banjarnegara district. Or you can chase a sunrise from Sembungan village which have a highest height from other village in this plateau. Sembungan also have a small lake, called Cebong Lake.
That is only a part of beauty and exotics of Dieng Plateau Area. Enjoy please!
Sikidang Crater
Sikidang Crater is one of many craters in Dieng Plateau Area. The location of this crater is in Dieng Kulon, Banjarnegara. Besides this crater, Dieng Plateau Area also has Sileri Crater, Candradimuka Crater, Sinila Crater, and so on.
In Dieng Plateau Area, although its afternoon, but the temperature is always cold, because this plateau is in about 2.500 m above the sea level, so every second is in the cold. The crater surrounded by potato field that belong to villagers near the crater. This crater is in Telaga Warna (Color Lake) area which is an icon of tourism in Dieng Plateau Area. Beside crater, in Telaga Warna area also have a complex temple named Arjuna Temple. Arjuna Temple have a several temple, such as Bima Temple which is the location is the nearest from Sikidang crater. This temple kept in a good condition, very clean and beautiful.
When we get lucky, we can enter this crater freely without any charge, because the ticket booth is seldom guarded. From the ticket booth to location of crater is quite faraway, about 2 km, but the road is in good condition, so may be it’s not a big problem to take a walk through it. We can also see the long pipes that belong to PT Geo Dipa Energy Dieng, which is a power plant that uses geothermal or native heat.
This tourist area complete by a large parking lot and also souvenir booth. We can buy a special food such as carica and mushroom, and we can buy some souvenir like scarf and gloves. When we get close to crater we can smell sulfide which is a pungent smell, not really good smell. The centre crater just guarded by a fence of bamboo, you need to be careful in this place. Within the crater, there’s a water crater which boiled very furious.
Considering Earth Condition from WED Years Theme

'Many Species. One Planet. One Future' is a World Environment Day (WED) United nation (UN) theme for 2010, that related with 2010 as International Year of Biodiversity. To celebrate it lets go back to see WED theme from 1976.
Started in 1972 when UN held an environment intercourse in Stockholm, Sweden which later day known as World Environment Day. It is different from Earth Day which is since 1970 celebrates every April 22. Every year, UN making a year theme WED, that is:
1976 Water: Vital Resource for Life
1977 Ozone Layer Environmental Concern
1978 Development without Destruction
1979 Only One Future for Our Children
1980 A New Challenge for the New Decade
1981 Toxic Chemical in Human Food Chains
1982 Renewal of Environmental Concerns
1983 Managing and Disposing Hazardous Waste
1984 Desertification
1985 Youth: Population and the Environment
1986 A Tree for a Peace
1987 Environment and Shelter: More Than a Roof
1988 When people put the Environment First, Development Will Last
1989 Global Warming; Global Warning
1990 Children and the Environment
1991 Climate Change. Need for Global Partnership
1992 Only One Earth, Care and Share
1993 Poverty and Environment- Breaking the Vicious Circle
1994 One Earth One Family
1995 We the Peoples: United for the Global Environment
1996 Our Earth Our Habitat Our Home
1997 For Life on Earth
1998 For Life on Earth - Save Our Seas
1999 Our Earth Our Future just Save It!
2000 The Environment Millennium - Time to Act
2001 Connect with the World Wide Web of Life
2002 Give Earth a Chance
2003 Water - Two Billion People are dying for it!
2004 Wanted! Seas and Ocean - Dead or Alive?
2005 Green Cities - Plan for the Planet!
2006 Desert and Desertification - Don’t Desert Dry lands!
2007 Melting Ice - A Hot Topic?
2008 CO2 Kick the Habit, Toward a Low carbon Economy
2009 Your Planet Needs You - Unit to Combat Climate Change
2010 Many Species One Planet One Future
From these themes above, we know that the struggle to save earth has been started from 30 years ago. Furthermore, “Global Warming” term which is just booming several years ago has been introduced not less than 15 years ago. Water, uncontrolled development, sea and ocean, trees, and also CO2 are the first choice theme of world struggle saving earth. But, still, no matter how long WED has been held, it is has no power to avoid the earth crash. Human still don’t realize hurting earth. Too bad man...
Gunung Dunia
Gunung Tertinggi Paling Spektakuler untuk PendakianKamu hobi mendaki gunung atau panjat tebing? Di dunia ini ada beberapa lokasi menantang untuk pendakian. Diambil dari blog ini. Ilustrasi adalah Prekestolen, Dataran Tinggi Kjerag, visit alamat di atas untuk gambar lebih lengkap.
1. Puncak Tak Bernama
Merupakan nama lain puncak Trango yang terletak di atas sungai es Baltoro, Pakistan Utara. Ketingian 6.239 m. Ukurannya besar dan memiliki perbukitan yang banyak sepanjang 1000 m.
2. Cerro Torre, Patagonia, Argentina
Gunung granit yang tegak lurus ini memiliki tinggi 3128 m.
3. Saint Matterhorn, Zermatt, Switzerland
Salah satu puncak tertinggi Swiss Alps dan sangat jangkung dengan ketinggian mencapai 4478 m.
4. Las Torres, Taman nasional Torres del Paine, Patagonia
Membentang sepanjang 112 km ke utara Puerto Natales dan 312 km ke utara Punta Arenas, taman ini juga menjadi tempat bagian Paine yang ketinggiannya sangat kontras dibandingkan dengan padang rumput Patagonian.
5. Bugaboo Spire, Columbia-Kootenay, Kanada
Terletak di antara sungai es Vowell di barat dan sungai es Crescent di timur, merupakan salah satu ikon panjat tebing Alpine yang terkenal di Kanada.
6. Gunung Roraima
Berada di perbatasan Venezuela, Brazil, dan Guyana, tingginya 2810 m dan menjadikannya tertinggi di Guyana. Salah satu formasi geologi tertua yang pernah ditemukan. Menjadikannya inspirasi dibalik novel terkenal Sir Arthur Conan Doyle “The Lost World”.
7. Gunung Thor, Baffin Island, Nunavut, Kanada
Berlokasi di Taman Nasional Auyuittuq, bagian barat dari gunung Thor atau puncak Thor, menjulang setinggi 1675 m dan tercatat sebagai tebing paling jangkung sedunia. Keterpencilan dan sudut vertikalnya yang 105 derajat membuatnya menjadi favorit bagi para pemanjat tebing dan sebagai lokasi camping.
8. El Capitan, Taman Nasional Yosemite, California
Berlokasi di sisi utara taman nasional Yosemite, monolith granit setinggi 900 m ini memiliki tebing terjal yang sangat membingungkan. Pendakian vertikalnya sangat menantang bagi para pemanjat tebing. Ada jalan setapak di sepanjang tepi Air Terjun Yosemite menuju puncak tebing terjal ini, tapi kesulitan yang luar biasa terletak pada saat penyeberangan di permukaan granitnya. Konon granit di sini telah berumur lebih dari 100 juta tahun. Makin ke puncak kualitas granitnya berubah menjadi Taft Granite dan beberapa bagiannya diperkirakan terbentuk pada jaman es mencair.
9. Prekestolen, Dataran Tinggi Kjerag, Forsand, Norway
Gunung jangkung (604 m) ini terletak bervariasi antara Prekestolen dan Preikestolen, dijuluki dengan nama “Preacher’s Pulpit” atau Tebing Tangga. Memiliki sebuah bidang puncak yang jarang yaitu berukuran 25 kali 25 meter.
10. Las Torres de Vajolet, Italian Alps
Rute Delago arête masih merupakan jalur pendakian yang nyaman untuk menaklukkan gunung ini. Lereng Delagokante-nya cukup sulit dan sering membuat para pendaki terbaik di sini menahan napas.
11. Agulha do Diabo
Nama dari puncak setinggi 2050 m yang berlokasi di Taman Nasional Serra dos Órgãos ini berarti “Jarum Setan”. Yang spesial dari gunung ini adalah bahwa bagiannya yang tersembunyi diantara blok-blok bebatuan dan pilar-pilar yang menjulang lebih dari 2000 meter.
12. Shiprock, New Mexico
Meski kita tidak mendakinya, kita dapat melihat bagian tengah Shiprock dari beberapa kilometer jauhnya karena diameternya yang mencapai 500 meter dan ketinggian 600 meter. Area dari gunung api yang sudah mati ini membentang hampir 20 ribu kilometer persegi mengelilingi daerah Arizona, Utah, dan Colorado.
13. Spider Rock
Monolith pasir batu merah dengan ketinggian 244 m yang menakjubkan ini berada di Taman Nasional Canyon de Chelly, Arizona. Terbentuk lebih dari 230 juta tahun yang lalu melalui pembentukan lapisan-lapisan tanah oleh angin.
14. Dead Horse Point
Tempat ini pernah dijadikan lokasi film di Mission Impossible. Berlokasi di sebelah sungai Colorado di Taman Nasional Canyonlands, gunung ini punya topografi yang sangat menarik. Dataran tinggi yang pada ketiga sisinya turun tiba-tiba memunculkan bidang dataran lancip yang menyolok mata.
15. Meteora, Yunani
Masuk dalam kawasan warisan dunia UNESCO, saat ini merupakan satu diantara lokasi panjat tebing yang penting.
Dieng
Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata bahasa Sunda Kuna: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi daerah itu berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh.
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.
Berikut adalah kawah-kawah di DTD:
Kawah Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009 (15/1)[1], menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu. Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.
Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Karena seringnya berpindah-pindah seperti rusa/ kidang, maka orang2 sekitar menyebutnya kawah sikidang (anak Kijang) .
Kawah Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.[2]
Kawah Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979,[3] tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.[4] Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.
Puncak-puncak di DTD :
Gunung Prahu (2.565 m)
Gunung Pakuwaja (2.395 m)
Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan
Danau vulkanik di DTD :
Telaga Warna, obyek wisata dengan tempat persemedian di dekatnya
Telaga Cebong, dekat desa wisata Sembungan
Telaga Merdada
Telaga Pengilon
Telaga Dringo
Telaga Nila
Alat Penghemat Listrik
Namun ada juga keuntungan menggunakan alat penghemat listrik, terutama pada rumah yang kapasitas listriknya minim sehingga tidak mudah njeglek. Penggunaan alat ini juga menguntungkan jika dipasang di kawasan industri. Peralatan industri menggunakan kumparan atau motor yang berpengaruh terhadap daya reaktif listrik. Karena industri diharuskan membayar daya nyata dan daya reaktif, maka ketika daya reaktif diturunkan maka biaya pembayaran daya reaktif akan menurun. Sedangkan jika digunakan di rumah tangga yang terjadi adalah penghematan semu yaitu hemat karena kinerja elektronik menurun.
Banyak pilihan alat penghemat listrik di pasaran. Jika tertarik, sebaiknya perhatikanlah kapasitas alat penghemat listrik. Pilihlah tipe yang sesuai dengan kapasitas yang digunakan di tempat anda. Penghematan listrik bisa tejadi bila penggunaan melebihi beban minimum, sebaliknya jika pemakaian di bawah beban minimum, tagihan listrik akan melonjak dua kali lipat.
Perhatikan pula peralatan elektronik di rumah anda. Alat penghemat listrik efektif pada barang yang menggunakan motor seperti mesin cuci, kulkas, pendingin ruangan, pompa air, televisi, lampu neon panjang produk lama, dll. Sedangkan lampu hemat energi dan setrika tidak terpengaruh terhadap alat ini. Tak kalah penting adalah kualitas dan garansi, serta anda wajib mengetahui alamat lengkap yang bisa dihubungi jika alat tersebut rusak. Dan jangan terlalu tergiur dengan peragaan atau demonstrasi yang dilakukan penjual.
Ada pilihan lain juga yaitu menghemat listrik secara alami, antara lain :
1. Mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak digunakan.
2. Menggunakan lampu dan peralatan elektronik hemat energi.
3. Atur pendingin ruangan pada suhu 26?C.
4. Permudah cahaya matahari masuk ke semua sudut ruangan.
5. Menggunakan listrik sesuai keperluan produktif saja.
*Disarikan dari Republika 4 April 2010.
Hemat Baterai Blackberry
Siapa yang bisa menyangkal kenyataan bahwa baterai Blackberry lebih cepat terkuras dibanding ponsel lain? Tapi tak perlu kuatir, kita bisa melakukan hal-hal sederhana untuk menghematnya. Hemat berarti kita juga berpartisipasi menghambat laju global warming, sounds great huh?
1. Lakukan pengisian baterai sesering mungkin, kapanpun kita bisa.
2. Pilih charger standar ke colokan listrik daripada menggunakan jalur USB komputer.
3. Kurangi volume saat memainkan media, musik, atau video.
4. Pilih gunakan headhone daripada speaker internal.
5. Gunakan Blackberry Desktop Manager saat transfer media dan hindari resizing atau pengubahan ukuran file.
6. Matikan setting Equalizer pada media.
7. Kunjungi situs mobile daripada situs full web, misalnya m.tabloidpulsa.co.id dibanding www.tabloidpulsa.co.id
8. Setting Repeat Animations ke parameter paling rendah saat browsing.
9. Tutup browser dengan ESC atau option-close bukan dengan End Key.
10. Kurangi waktu timeout backlight layar dan kurangi brightness.
11. Atur audible roll ke mute agar tidak bersuara.
12. Matikan key tone.
13. Gunakan holster atau kantung ketika menyimpan ponsel ke dalam saku.
14. Matikan koneksi yang tidak terpakai, seperti Bluetooth, WiFi, GPS.
15. Gunakan Auto On/Off untuk koneksi jaringan.
16. Sebisa mungkin gunakan single mode untuk koneksi jaringan, misalnya 1XEV, atau 2G saja, atau 3G saja.
17. Pilih gunakan shortcut dibanding aktivasi menu Java.
18. Matikan flash kamera.
19. Atur ukuran Picture kamera ke Small.
20. Atur Color Effect dan Picture Quality ke Normal.
21. Ketika menggunakan aplikasi, setelah selesai pastikan anda menutup aplikasi tersebut. Jangan biarkan berjalan di belakang sistem. Tutup dengan ESC key atau option-close, jangan hanya menekan tombol end merah.
22. Log out semua aplikasi pihak ketiga ketika tidak dibutuhkan, semisal fitur chatting dan Facebook.
23. Matikan semua notifikasi audio dan matikan coverage LED.
24. Lakukan zoom out saat menggunakan GPS hingga mendapat sudut gambar lokasi yang masih dapat digunakan untuk navigasi.
Sederhana kan? Tidak harus diaplikasikan semua, cukup gunakan sesuai kebutuhan. Semoga bermanfaat.
*Disarikan dari Tabloid Pulsa Edisi 177 Th VII Februari 2010
